Home Fire Safety Industri Petasan dan Kembang Api Minim Standar Keselamatan

Industri Petasan dan Kembang Api Minim Standar Keselamatan

0
SHARE
Pesta kembang api menyambut tahun baru (FOTO: coconuts.co)

JAKARTA, ISafetyMagz.com – China adalah produsen petasan dan kembang api terbesar di dunia. Negeri Tirai Bambu itu memasok 90 persen kebutuhan kembang api untuk lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia. Kembang api lazimnya digunakan untuk perayaan ulang tahun, pernikahan, perayaan pesta olah raga hingga hari kemerdekaan suatu negara.

Industri petasan dan kembang api di China sudah berkembang berabad-abada secara turun temurun. Salah satu pusat pembuatan kembang api dan petasan di China berada di kota Liuyang dan Liling, Provinsi Hunan. Di Liuyang ada seribuan pabrik dan home industry dengan omzet penjualan 600 juta dollar per tahun. “Industri petasan di Cina memutar roda ekonomi 4 miliar dolar AS per tahun,” tulis slate.com.

Industri kembang api juga menyerap tenaga kerja besar dalam jumlah besar. Presiden Chagsa MeiTai Firework, menyebutkan industri ini mampu menyerap tenaga kerja sekitar 60 persen warga Liuyang, Provinsi Hunan. Potensi pasar yang selalu tersedia membuat pengusaha mereguk keuntungan. “Kembang api adalah cara termudah untuk kaya di Liuyang,” ujar seorang general manager bernama Xu seperti dikutip dari CNN Travel, 12 Juli 2017.

Indonesia sendiri tercatat sebagai pengimpor atas produk kembang api dari China. Data BPS pada 2013 mencatat impor kembang api dari China mencapai 30,91 juta dollar AS atau Rp 374,56 miliar pada Januari-November 2013. Impor ini memuat kembang api seberat 23,01 juta kg.

Selain China, India menjadi produsen kembang api dan petasan terbesar berikutnya. Di negeri ini pusat produksi kembang api ada di kota Sivakasi. Di India, perputaran uang di industri ini mencapai 365 juta dollar. Tak sebesar seperti di China memang, karena semua produksi kembang api dan petasan tak diizinkan untuk diekspor ke luar negeri alias hanya untuk konsumsi dalam negeri.

Kesamaan dari industri ini di kedua negara raksasa tersebut adalah tingkat kecelakaan kerjanya yang tinggi. Di China, industri ini menjadi pekerjaan paling berbahaya setelah pertambangan batu bara di Cina.

Dalam kurun waktu 1986-2005, rata-rata setiap tahun ada 400 orang pekerja pabrik petasan meregang nyawa akibat kebakaran atau ledakan yang menimpa pabrik tempat mereka bekerja. Pada 22 September 2014, misalnya, pabrik Nanyang Export Fireworks Factory, meledak dan menewaskan 14 korban pekerjanya.

Seperti halnya di China, tingkat kecelakaan industri ini juga cukup tinggi. Dilaporkan rata-rata 20-25 pekerjanya tewas akibat ledakan setiap tahun. Toh, sekitar 700 ribu tetap menggantungkan nasib kehidupan mereka pada industri tersebut.

Sejak awal 2004, pemerintah China akhirnya membuat aturan yang memperketat standar operasi pabrik maupun pengelolaan zat-zat kimia yang menjadi bahan baku. Mereka yang diketahui tak memenuhi standar keselamatan, pemerintah tak segan menutup pabrik. Otoritas di Fengxiang, misalnya, menutup 2,180 industri rumahan kembang api dan petasan karena dinilai tak memenuhi standar keselamatan.

Sumber: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

2 + 6 =