Home Fire Safety Safety Bukan Teori, Tapi Komitmen – Fatar Yani Abdurrahman

Safety Bukan Teori, Tapi Komitmen – Fatar Yani Abdurrahman

0
SHARE
Fatar Yani Abdurrahman, Deputi Operasi SKK Migas (FOTO: Rijal)

JAKARTA, ISafetyMagz.com – Kasus kecelakaan kerja masih saja banyak terjadi di bagian hulu Migas, meski aspek K3 dan safety di industri migas paling maju dibanding industri lain. Safety nyatanya bukan sekadar teori di atas kertas, tapi butuh komitmen dan usaha yang kuat guna mewujudkannya.

MINYAK dan Gas (Migas) merupakan sektor industri yang padat risiko, modal, dan teknologi. Karena itu, aspek keselamatan menjadi hal yang sangat penting dalam industri migas. Hal ini pula yang menjadi perhatian di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), sejak lembaga ini dibentuk Pemerintah  melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 9 Tahun 2013 menggantikan BP Migas.

Di SKK Migas, aspek keselamatan kerja itu berada di pundak Fatar Yani Abdurrahman, Deputi Operasi SKK Migas. Ditemui ISafety di ruang kerjanya di SKK Migas pada Selasa (9/1/2018), Fatar menjelaskan bahwa di SKK Migas ada beberapa deputi. Yaitu Deputi Perencanaan, Deputi Operasi, Deputi Keuangan, Deputi Pengendalian Pengadaan, dan Deputi Dukungan Bisnis.

 

Fatar Yani Abdurrahman, Deputi Operasi SKK Migas (FOTO: Rijal)

Ditanya soal visi dari keselamatan Migas di SKK Migas, Fatar tegas mengatakan bahwa visi SKK Migas adalah Journey to Zero. Dari tahun ke tahun total rate yang dicapai,  baik Incident Rate (IR)  maupun Fatal Accident Rate (FAR), dari kegiatan eksploitasi dan eksplorasi menurun.  Salah satu tolak ukur keberhasilan kinerja pengelolaan keselamatan kerja dalam kegiatan operasional hulu migas ditandai dengan rendahnya angka kecelakaan kerja.

 

Safety Butuh Komitmen Kuat

Data 2017 menurut Fatar tidak jauh berbeda dengan 2016. Karenanya Fatar merasa agak kecewa karena tahun 2017 tidak lebih baik dibanding tahun 2016. “Incident Rate di 2017 memang menurun, tetapi LTI nya justru meningkat. Yang membuat saya kecewa, LTI tersebut justru terjadi di PT Pertamina, di pengeboran dan konstruksi. Anehnya, bukan hanya terjadi di Pertamina tetapi juga di sebuah perusahaan asing yang besar. Kita semua tahu bahwa perusahaan migas asing di Indonesia begitu luar biasa dalam hal safety,” kata Fatar.

Ilustrasi Kebakaran Migas (Foto: Istimewa)

Dari kejadian itu, kata Fatar, ia selalu mengatakan kepada jajarannya bahwa safety bukan soal teori tetapi soal komitmen dan keseriusan pimpinan. Safety tak cukup hanya di atas kertas, tetapi harus ada usaha.

“Nah usahanya apa. Kalau saya selalu mengibaratkan, safety adalah doa. Gak cukup dong kalau cuma doa saja tanpa ada usaha. Misalnya tentang JSA (Job Safety Analysis), apa cukup jika cuma tercatat tetapi tidak dikerjakan? Ini yang sering terjadi di Indonesia.”

Jika kecelakaan kerja masih banyak terjadi di bagian hulu migas, utamanya di pengeboran dan konstruksi, lalu upaya apa yang selama ini dilakukan SKK Migas selaku lembaga yang dibentuk pemerintah khusus melaksanakan kegiatan hulu migas? “Sebelum saya melihat atau bahkan menyalahkan sistemnya, yang pertama sekali kita lihat adalah leadershipnya terlebih dahulu. Semuanya berasal dari leadership. Seorang pemimpin tak hanya sekadar harus memiliki wawasan K3 yang luas, tetapi juga harus memiliki komitmen dan kepedulian yang kuat.  Leadership is about commitment. Commitment is about your heart,” kata Fatar yang pernah bekerja di perusahaan migas asing ini.

“Seorang pemimpin jangan hanya sekadar memberikan perintah, melakukan visit (kunjungan), lalu pidato di sana-sini. Pimpinan harus turun ke bawah, harus memiliki kepedulian yang tinggi dan komitmen yang kuat. Pimpinan juga harus memberikan contoh atau lead by example atau menjadi role model,” terang Fatar.

Dari aspek leadership, pihaknya kemudian akan melihat sistem dan supervisi. Menurut Fatar, kecelakaan kerja yang terjadi, pada beberapa kasus justru menunjukkan faktor supervisi atau pengawasannya lemah. Bidang pengeboran dan konstruksi, katanya, membutuhkan energi yang lebih sehingga membutuhkan supervisi yang ketat.

Fatar mencontohkan lemahnya supervisi dalam kasus kecelakaan kerja yang menimpa seorang pekerja belum lama ini. Ketika jam istirahat, seorang pekerja yang bukan operator menyalakan mesin buldozer. Kendaraan berat itu sebelumnya tidak menyala ketika dihidupkan. Di luar dugaan, ketika distarter, buldozer itu hidup dan langsung jalan karena si operator sebelumnya lupa menarik rem tangan. Akibatnya kendaraan berat itu menabrak dan melindas pekerja lain.

Terhadap unsur pimpinan tadi, pihaknya juga melakukan warning berupa surat peringatan. Fatar menilai, surat peringatan yang diberikan kepada pimpinan akan memiliki dampak terhadap perbaikan kinerja ketimbang memberikan surat peringatan itu kepada pekerja. (Hasanuddin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

8 + 5 =